Kripik Tempe Malang Yang Renyah

Kripik Tempe Malang Yang Renyah

Kripik tempe makanan ringan khas dari Kota Malang saya kira sudah banyak yang mengetahuinya. Rasa camilan ini gurih, bentuknya bulat atau kotak tipis, tekstur kripiknya renyah juga empuk sehingga kakek nenek pun tidak akan kesulitan untuk menikmati camilan ini.

Kripik tempe diolah dari bahan bahan alami dengan melalui proses pengolahan yang masih tradisional. Kacang kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tempe yang berkualitas baik untuk diolah menjadi kripik tempe.

Pengolahan Kedelai Sebagai Bahan Baku Kripik Tempe

kripik tempe malang renyahKedelai yang kebanyakan ada di pasaran Indonesia didominasi kedelai import dari Negara Amerika, kedelai ini cukup baik dipakai sebagai bahan baku tempe, warna kedelainya cerah dan bentuk butirannya rata rata berukuran sama.

Langkah pertama untuk membuat tempe sebagai bahan baku kripik tempe adalah pencucian kedelai hingga bersih dengan cara meremas dan mengganti air cucian apabila keruh. Setelah kedelai bersih siapkan air dalam panci kemudian rebus bersama kedelai kira kira selama setengah jam.

Langkah selanjutnya untuk membuat bahan baku kripik tempe adalah perendaman. Rendam kacang kedelai yang telah matang direbus tersebut selama satu hari dengan tujuan agar biji kedelai mengembang dan dengan sendirinya maka kulit ari biji kedelai akan terkelupas. Buang kulit ari yang terkelupas hingga bersih setiap biji kedelai tersebut.

Pembuatan bahan baku kripik tempe berlanjut dengan perebusan ulang kedelai dengan air yang baru hingga mendidih kisaran kurang lebih sembilan puluh menitan. Angkat tiriskan, ratakan di tempat yang lebar agar kedelai cepat dingin.

Proses peragian bahan baku kripik tempe. Campurkan ragi tempe secara merata pada kedelai dengan takaran perkiraan satu kilogram kedelai dicampur satu sendok ragi tempe, pastikan pengadukannya merata terkena semua setiap biji kedelainya.

Pencetakan tempe bisa dilakukan berbagai macam cara, pada umumnya kedelai yang telah diragi tersebut dimasukkan dalam plastik kemudian plastiknya ditusuk tusuk agar tidak pecah karena tekanan udara hasil proses peragian. Cara lain pencetakan yaitu dengan menggunakan tampah bambu dan atasnya ditutup dengan daun pisang.

Simpan kedelai tersebut ditempat yang teduh dan tidak panas apabila siang hari. Kisaran antara dua atau tiga hari kemudian maka tempe sebagai bahan baku pembuatan kripik tempe akan matang dan siap diolah.

Pembuatan Kripik Tempe Yang Renyah

Masuk kedalam pengolahan tempe menjadi kripik tempe, iris tipis tipis tempe yang telah jadi tersebut secara rapi. Siapkan adonan tepung terigu dan tepung beras yang telah dicampur rata dengan ditambahkan bumbu bumbu seperti bawang putih, ketumbar, garam, penyedap rasa, dan telur ayam. Pastikan komposisi rasa adonan tersebut sesuai dengan selera Anda.

Siapkan dua buah wajan diatas dua kompor yang telah diisi minyak goreng penuh. Penggorengan pertama posisikan bekerja dalam temperatur sedang, sedang penggorengan kedua berada pada suhu maksimal.

Celupkan irisan tempe pada adonan tepung terigu kemudian masukkan dalam penggorengan pertama, waktunya tidak perlu terlalu lama, secara visual apabila dilihat tepung terigu sudah mulai mengering kaku maka segera angkat dan pindahkan kedalam penggorengan kedua. Pada penggorengan kedua ini kripik tempe dipanasi hingga benar benar matang.

Pastikan kripik tempe sudah matang betul dan tidak terlalu gosong agar rasanya enak dan penampilannya bagus. Angkat dari penggorengan kemudian tiriskan dan dinginkan, kripik tempe olahan sendiripun siap untuk dinikmati.

Kripik Tempe Aneka Keripik Malang

Keripik tempe tersedia di Aneka Keripik Malang, ada beberapa varian rasa yang ditawarkan diantaranya keripik tempe, original, ayam bawang, ayam bawang pedas, balado, barbeque, jagung bakar, jagung manis, keju, lada hitam, ayam bakar, pedas manis, pizza, rumput laut, sambal udang, sapi panggang, seafood, spagheti, udang, jeruk Purut, balado hijau, sambal setan. Untuk pemesanan kripik tempe hubungi nomor kontak Customer Service Aneka Keripik Malang.

Tempe Dengan Manfaatnya Serta Cara Pembuatannya

TEMPE

Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai “ragi tempe“.

Kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia. Tempe kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Berbagai macam kandungan didalamnya mempunyai nilai obat, seperti antibiotika untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif.

Secara umum, tempe berwarna putih karena pertumbuhan miselia kapang yang merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat. Degradasi komponen-komponen kedelai pada fermentasi membuatnya memiliki rasa dan aroma khas. Berbeda dengan tahu, tempe terasa agak masam.

Tempe banyak dikonsumsi di Indonesia, tetapi sekarang telah mendunia. Kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah menggunakannya sebagai pengganti daging. Akibatnya sekarang tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di Indonesia. Berbagai penelitian di sejumlah negara, seperti Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Indonesia juga sekarang berusaha mengembangkan galur (strain) unggul Rhizopus untuk menghasilkan tempe yang lebih cepat, berkualitas, atau memperbaiki kandungan gizinya. Beberapa pihak mengkhawatirkan kegiatan ini dapat mengancam keberadaan tempe sebagai bahan pangan milik umum karena galur-galur ragi tempe unggul dapat didaftarkan hak patennya sehingga penggunaannya dilindungi undang-undang (memerlukan lisensi dari pemegang hak paten).

Pembuatan Tempe

Terdapat berbagai metode pembuatannya. Namun, teknik pembuatannya di Indonesia yang ditemukan oleh chandra dwi dhanarto(1994) secara umum terdiri dari tahapan perebusan, pengupasan, perendaman dan pengasaman, pencucian, inokulasi dengan ragi, pembungkusan, dan fermentasi.

Pada tahap awal pembuatannya, biji kedelai direbus. Tahap perebusan ini berfungsi sebagai proses hidrasi, yaitu agar biji kedelai menyerap air sebanyak mungkin. Perebusan juga dimaksudkan untuk melunakkan biji kedelai supaya nantinya dapat menyerap asam pada tahap perendaman.

Kulit biji kedelai dikupas pada tahap pengupasan agar miselium fungi dapat menembus biji kedelai selama proses fermentasi. Pengupasan dapat dilakukan dengan tangan, diinjak-injak dengan kaki, atau dengan alat pengupas kulit biji.

Setelah dikupas, biji kedelai direndam. Tujuan tahap perendaman ialah untuk hidrasi biji kedelai dan membiarkan terjadinya fermentasi asam laktat secara alami agar diperoleh keasaman yang dibutuhkan untuk pertumbuhan fungi. Fermentasi asam laktat terjadi dicirikan oleh munculnya bau asam dan buih pada air rendaman akibat pertumbuhan bakteri Lactobacillus. Bila pertumbuhan bakteri asam laktat tidak optimum misalnya di negara-negara subtropis, asam perlu ditambahkan pada air rendaman. Fermentasi asam laktat dan pengasaman ini ternyata juga bermanfaat meningkatkan nilai gizi dan menghilangkan bakteri-bakteri beracun.

Proses pencucian akhir dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang mungkin dibentuk oleh bakteri asam laktat dan agar biji kedelai tidak terlalu asam. Bakteri dan kotorannya dapat menghambat pertumbuhan fungi.

Inokulasi dilakukan dengan penambahan inokulum, yaitu ragi atau laru. Inokulum dapat berupa kapang yang tumbuh dan dikeringkan pada daun waru atau daun jati (disebut usar; digunakan secara tradisional), spora kapang tempe dalam medium tepung (terigu, beras, atau tapioka; banyak dijual di pasaran), ataupun kultur R. oligosporus murni (umum digunakan oleh pembuat tempe di luar Indonesia). Inokulasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu penebaran inokulum pada permukaan kacang kedelai yang sudah dingin dan dikeringkan, lalu dicampur merata sebelum pembungkusan; atau inokulum dapat dicampurkan langsung pada saat perendaman, dibiarkan beberapa lama, lalu dikeringkan.

Setelah diinokulasi, biji-biji kedelai dibungkus atau ditempatkan dalam wadah untuk fermentasi. Berbagai bahan pembungkus atau wadah dapat digunakan (misalnya daun pisang, daun waru, daun jati, plastik, gelas, kayu, dan baja), asalkan memungkinkan masuknya udara karena kapang membutuhkan oksigen untuk tumbuh. Bahan pembungkus dari daun atau plastik biasanya diberi lubang-lubang dengan cara ditusuk-tusuk.

Biji-biji kedelai yang sudah dibungkus dibiarkan untuk mengalami proses fermentasi. Pada proses ini kapang tumbuh pada permukaan dan menembus biji-biji kedelai, menyatukannya. Fermentasi dapat dilakukan pada suhu 20 °C–37 °C selama 18–36 jam. Waktu fermentasi yang lebih singkat biasanya untuk yang menggunakan banyak inokulum dan suhu yang lebih tinggi, sementara proses tradisional menggunakan laru dari daun biasanya membutuhkan waktu fermentasi sampai 36 jam.

Sejarah dan perkembangan Tempe

Tidak seperti makanan kedelai tradisional lain yang biasanya berasal dari Cina atau Jepang, tempe berasal dari Indonesia. Tidak jelas kapan pembuatannya dimulai. Namun demikian, makanan tradisonal ini sudah dikenal sejak berabad-abad lalu, terutama dalam tatanan budaya makan masyarakat Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Surakarta. Dalam bab 3 dan bab 12 manuskrip Serat Centhini dengan seting Jawa abad ke-16 (Serat Centhini sendiri ditulis pada awal abad ke-19) telah ditemukan kata “tempe”, misalnya dengan penyebutan nama hidangan jae santen tempe (sejenis masakan tempe dengan santan) dan kadhele tempe srundengan. Hal ini dan catatan sejarah yang tersedia lainnya menunjukkan bahwa mungkin pada mulanya tempe diproduksi dari kedelai hitam, berasal dari masyarakat pedesaan tradisional Jawa—mungkin dikembangkan di daerah Mataram, Jawa Tengah, dan berkembang sebelum abad ke-16.

Kata “tempe” diduga berasal dari bahasa Jawa Kuno. Pada zaman Jawa Kuno terdapat makanan berwarna putih terbuat dari tepung sagu yang disebut tumpi. Tempe segar yang juga berwarna putih terlihat memiliki kesamaan dengan makanan tumpi tersebut.

Selain itu terdapat rujukan mengenai tempe dari tahun 1875 dalam sebuah kamus bahasa Jawa-Belanda. Sumber lain mengatakan bahwa pembuatannya diawali semasa era Tanam Paksa di Jawa. Pada saat itu, masyarakat Jawa terpaksa menggunakan hasil pekarangan, seperti singkong, ubi dan kedelai, sebagai sumber pangan. Selain itu, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa tempe mungkin diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa yang memproduksi makanan sejenis, yaitu koji kedelai yang difermentasikan menggunakan kapang Aspergillus. Selanjutnya, teknik pembuatannya menyebar ke seluruh Indonesia, sejalan dengan penyebaran masyarakat Jawa yang bermigrasi ke seluruh penjuru Tanah Air.

Tempe di Indonesia
Indonesia merupakan negara produsen terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk tempe, 40% tahu, dan 10% dalam bentuk produk lain (seperti tauco, kecap, dan lain-lain). Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diduga sekitar 6,45 kg.

Pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia, para tawanan perang yang diberi makan tempe terhindar dari disentri dan busung lapar. Sejumlah penelitian yang diterbitkan pada tahun 1940-an sampai dengan 1960-an juga menyimpulkan bahwa banyak tahanan Perang Dunia II berhasil selamat karena tempe. Menurut Onghokham, tempe yang kaya protein telah menyelamatkan kesehatan penduduk Indonesia yang padat dan berpenghasilan relatif rendah.

Namun, nama ‘tempe’ pernah digunakan di daerah perkotaan Jawa, terutama Jawa tengah, untuk mengacu pada sesuatu yang bermutu rendah. Soekarno, Presiden Indonesia pertama, sering memperingatkan rakyat Indonesia dengan mengatakan, “Jangan menjadi bangsa tempe.” Baru pada pertengahan 1960-an pandangan mengenai ini mulai berubah.

Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an terjadi sejumlah perubahan dalam pembuatan tempe di Indonesia. Plastik (polietilena) mulai menggantikan daun pisang untuk membungkusnya, ragi berbasis tepung (diproduksi mulai 1976 oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan banyak digunakan oleh Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia, Kopti) mulai menggantikan laru tradisional, dan kedelai impor mulai menggantikan kedelai lokal. Produksinya meningkat dan industrinya mulai dimodernisasi pada tahun 1980-an, sebagian berkat peran serta Kopti yang berdiri pada 11 Maret 1979 di Jakarta dan pada tahun 1983 telah beranggotakan lebih dari 28.000 produsen.

Standar teknisnya telah ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia dan yang berlaku sejak 9 Oktober 2009 ialah SNI 3144:2009. Dalam standar tersebut, tempe kedelai didefinisikan sebagai “produk yang diperoleh dari fermentasi biji kedelai dengan menggunakan kapang Rhizopus sp., berbentuk padatan kompak, berwarna putih sedikit keabu-abuan dan berbau khas”.

Tempe di Luar Indonesia

Telah dikenal oleh masyarakat Eropa melalui orang-orang Belanda. Pada tahun 1895, Prinsen Geerlings (ahli kimia dan mikrobiologi dari Belanda) melakukan usaha yang pertama kali untuk mengidentifikasi kapang. Perusahaan-perusahaan tempe yang pertama di Eropa dimulai di Belanda oleh para imigran dari Indonesia.

Melalui Belanda, tempe telah populer di Eropa sejak tahun 1946. Sementara itu, populer di Amerika Serikat setelah pertama kali dibuat di sana pada tahun 1958 oleh Yap Bwee Hwa, orang Indonesia yang pertama kali melakukan penelitian ilmiah mengenai tempe. Di Jepang, diteliti sejak tahun 1926 tetapi baru mulai diproduksi secara komersial sekitar tahun 1983. Pada tahun 1984 sudah tercatat 18 perusahaan tempe di Eropa, 53 di Amerika, dan 8 di Jepang. Di beberapa negara lain, seperti Republik Rakyat Cina, India, Taiwan, Sri Lanka, Kanada, Australia, Amerika Latin, dan Afrika, tempe sudah mulai dikenal di kalangan terbatas.

Khasiat dan Kandungan Gizi

Potensi untuk digunakan melawan radikal bebas, sehingga dapat menghambat proses penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif (aterosklerosis, jantung koroner, diabetes melitus, kanker, dan lain-lain). Selain itu juga mengandung zat antibakteri penyebab diare, penurun kolesterol darah, pencegah penyakit jantung, hipertensi, dan lain-lain.

Komposisi gizi baik kadar protein, lemak, dan karbohidratnya tidak banyak berubah dibandingkan dengan kedelai. Namun, karena adanya enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kapang, maka protein, lemak, dan karbohidrat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Oleh karena itu, sangat baik untuk diberikan kepada segala kelompok umur (dari bayi hingga lansia), sehingga bisa disebut sebagai makanan semua umur.

Dibandingkan dengan kedelai, terjadi beberapa hal yang menguntungkan pada tempe. Secara kimiawi hal ini bisa dilihat dari meningkatnya kadar padatan terlarut, nitrogen terlarut, asam amino bebas, asam lemak bebas, nilai cerna, nilai efisiensi protein, serta skor proteinnya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah dicerna, diserap, dan dimanfaatkan tubuh dibandingkan dengan yang ada dalam kedelai. Ini telah dibuktikan pada bayi dan anak balita penderita gizi buruk dan diare kronis.

Dengan pemberian tempe, pertumbuhan berat badan penderita gizi buruk akan meningkat dan diare menjadi sembuh dalam waktu singkat. Pengolahan kedelai menjadi tempe akan menurunkan kadar raffinosa dan stakiosa, yaitu suatu senyawa penyebab timbulnya gejala flatulensi (kembung perut).

Mutu gizi tempe yang tinggi memungkinkan penambahan tempe untuk meningkatkan mutu serealia dan umbi-umbian. Hidangan makanan sehari-hari yang terdiri dari nasi, jagung, atau tiwul akan meningkat mutu gizinya bila ditambah tempe.

Sepotong tempe goreng (50 gram) sudah cukup untuk meningkatkan mutu gizi 200 g nasi. Bahan makanan campuran beras-tempe, jagung-tempe, gaplek-tempe, dalam perbandingan 7:3, sudah cukup baik untuk diberikan kepada anak balita.

Asam Lemak

Selama proses fermentasi tempe, terdapat tendensi adanya peningkatan derajat ketidakjenuhan terhadap lemak. Dengan demikian, asam lemak tidak jenuh majemuk (polyunsaturated fatty acids, PUFA) meningkat jumlahnya.

Dalam proses itu asam palmitat dan asam linoleat sedikit mengalami penurunan, sedangkan kenaikan terjadi pada asam oleat dan linolenat (asam linolenat tidak terdapat pada kedelai). Asam lemak tidak jenuh mempunyai efek penurunan terhadap kandungan kolesterol serum, sehingga dapat menetralkan efek negatif sterol di dalam tubuh.

Vitamin

Dua kelompok vitamin terdapat pada tempe, yaitu larut air (vitamin B kompleks) dan larut lemak (vitamin A, D, E, dan K). Tempe merupakan sumber vitamin B yang sangat potensial. Jenis vitamin yang terkandung dalam tempe antara lain vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), asam pantotenat, asam nikotinat (niasin), vitamin B6 (piridoksin), dan B12 (sianokobalamin).

Vitamin B12 umumnya terdapat pada produk-produk hewani dan tidak dijumpai pada makanan nabati (sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian), namun tempe mengandung vitamin B12 sehingga tempe menjadi satu-satunya sumber vitamin yang potensial dari bahan pangan nabati. Kenaikan kadar vitamin B12 paling mencolok pada pembuatan tempe; vitamin B12 aktivitasnya meningkat sampai 33 kali selama fermentasi dari kedelai, riboflavin naik sekitar 8-47 kali, piridoksin 4-14 kali, niasin 2-5 kali, biotin 2-3 kali, asam folat 4-5 kali, dan asam pantotenat 2 kali lipat. Vitamin ini tidak diproduksi oleh kapang tempe, tetapi oleh bakteri kontaminan seperti Klebsiella pneumoniae dan Citrobacter freundii.

Kadar vitamin B12 dalam tempe berkisar antara 1,5 sampai 6,3 mikrogram per 100 gram tempe kering. Jumlah ini telah dapat mencukupi kebutuhan vitamin B12 seseorang per hari. Dengan adanya vitamin B12 pada tempe, para vegetarian tidak perlu merasa khawatir akan kekurangan vitamin B12, sepanjang mereka melibatkan tempe dalam menu hariannya.

Mineral

Tempe mengandung mineral makro dan mikro dalam jumlah yang cukup. Jumlah mineral besi, tembaga, dan zink berturut-turut adalah 9,39; 2,87; dan 8,05 mg setiap 100 g tempe.

Kapang tempe dapat menghasilkan enzim fitase yang akan menguraikan asam fitat (yang mengikat beberapa mineral) menjadi fosfor dan inositol. Dengan terurainya asam fitat, mineral-mineral tertentu (seperti besi, kalsium, magnesium, dan zink) menjadi lebih tersedia untuk dimanfaatkan tubuh.

Antioksidan

Di dalam tempe juga ditemukan suatu zat antioksidan dalam bentuk isoflavon. Seperti halnya vitamin C, E, dan karotenoid, isoflavon juga merupakan antioksidan yang sangat dibutuhkan tubuh untuk menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas.

Dalam kedelai terdapat tiga jenis isoflavon, yaitu daidzein, glisitein, dan genistein. Pada tempe, di samping ketiga jenis isoflavon tersebut juga terdapat antioksidan faktor II (6,7,4-trihidroksi isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan paling kuat dibandingkan dengan isoflavon dalam kedelai. Antioksidan ini disintesis pada saat terjadinya proses fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri Micrococcus luteus dan Coreyne bacterium.

Penuaan (aging) dapat dihambat bila dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari mengandung antioksidan yang cukup. Karena tempe merupakan sumber antioksidan yang baik, konsumsinya dalam jumlah cukup secara teratur dapat mencegah terjadinya proses penuaan dini.

Penelitian yang dilakukan di Universitas North Carolina, Amerika Serikat, menemukan bahwa genestein dan fitoestrogen yang terdapat pada tempe ternyata dapat mencegah kanker prostat dan payudara.

Tempe bukan kedelai

Selain tempe berbahan dasar kacang kedelai, terdapat pula berbagai jenis makanan berbahan bukan kedelai yang juga disebut tempe. Terdapat dua golongan besar tempe menurut bahan dasarnya, yaitu tempe berbahan dasar legum dan tempe berbahan dasar non-legum.

Tempe bukan kedelai yang berbahan dasar legum mencakup koro benguk (dari biji kara benguk, Mucuna pruriens L.D.C. var. utilis, berasal dari sekitar Waduk Kedungombo), gude (dari kacang gude, Cajanus cajan), gembus (dari ampas kacang gude pada pembuatan pati, populer di Lombok dan Bali bagian timur),  kacang hijau (dari kacang hijau, terkenal di daerah Yogyakarta), kacang kecipir (dari kecipir, Psophocarpus tetragonolobus), kara pedang (dari biji kara pedang Canavalia ensiformis), lupin (dari lupin, Lupinus angustifolius), kacang merah (dari kacang merah, Phaseolus vulgaris), kacang tunggak (dari kacang tunggak, Vigna unguiculata), kara wedus (dari biji kara wedus Lablab purpures), kara (dari kara kratok, Phaseolus lunatus, banyak ditemukan di Amerika Utara), dan menjes (dari kacang tanah dan kelapa, terkenal di sekitar Malang).

Tempe berbahan dasar non-legum mencakup mungur (dari biji mungur, Enterolobium samon), bongkrek (dari bungkil kapuk atau ampas kelapa, terkenal di daerah Banyumas), garbanzo (dari ampas kacang atau ampas kelapa, banyak ditemukan di Jawa Tengah), biji karet (dari biji karet, ditemukan di daerah Sragen, jarang digunakan untuk makanan), dan tempe jamur merang (dari jamur merang).

Resep Cara Membuat Keripik Tempe Yang Renyah

Resep Cara Membuat Keripik Tempe

Keripik tempe siapa yang tidak mengetahui jenis camilan enak ini, rasa lezat gurih camilan keripik tempe bisa menggoda siapa saja yang melihatnya. Resep cara membuat keripik tempe.

Makanan tempe bagi masyarakat Indonesia sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok pada menu meja makan sehari hari setiap rumah tangga, jenis kreasi pengolahan tempe menjadi kuliner sangat beragam salah satunya yang paling familier dalam masyarakat adalah pengolahan tempe menjadi camilan keripik tempe. Resep cara membuat keripik tempe.

Resep Cara Membuat Keripik TempeSetiap daerah di Indonesia bisa ditemui pembuatan keripik tempe namun sentra pengolahan tempe menjadi keripik tempe yang cukup dikenal adalah Malang dari daerah ini Anda bisa mendapati olahan keripik tempe yang memiliki rasa sangat spesial. Keripik tempe Malang dikenal dari rasa lezat dan teksturnya renyah ketika dimakan hal ini menjadi ciri khas keripik tempe buatan daerah Malang dibanding dengan daerah lainnya. Resep cara membuat keripik tempe.

Adapun pengolahan kacang kedelai menjadi tempe tingkat keberhasilan dan rasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah jenis kedelai yang digunakan, ragi yang digunakan serta perbandingannya ketika dicampur dengan kedelai dan yang penting lagi adalah kondisi alam terutama iklim dan suhu berpengaruh besar pada hasil tempe. Resep cara membuat keripik tempe.

Pengolahan tempe di daerah yang beriklim panas hasilnya cenderung terasa sedikit asam dan terlalu cepat matang, di daerah yang dingin sekali akan sangat susah ketika dilakukan peragian pada kedelai, adapun daerah yang ideal untuk pembuatan tempe adalah daerah yang tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin seperti Malang yang letak geografisnya ada didataran tinggi, tak heran apabila hasil tempe dari Malang dikenal sangat enak rasanya. Resep cara membuat keripik tempe.

Bahan Untuk Resep Cara Membuat Keripik Tempe

Kali ini Aneka Keripik Malang berbagi resep untuk membuat cemilan renyah keripik tempe khas rasa asli dari kota Malang. Resep cara membuat keripik tempe ini kita mulai dari kedelai yang telah diolah jadi tempe, cara pembuatannya sangatlah mudah setiap ibu ibu rumah tangga pasti bisa melakukan karena alat alat yang digunakan bukanlah alat khusus.

Bahan bahan yang diperlukan untuk resep cara membuat keripik tempe antara lain :

1000 gr tempe bisa yang berbentuk bulat ataupun kotak

200 gr tepung beras

100 gr tepung kanji

500 ml santan kelapa

2 butir telur ayam

1000 ml minyak goreng

Bahan halus untuk bumbu lapisan keripik tempe antara lain :

7 siung bawang putih

5 butir kemiri

10 lembar daun jeruk purut

3 cm kunyit

2 sendok teh ketumbar

3 sendok makan garam

Langkah Resep Cara Membuat Keripik Tempe

Tempe diiris tipis tipis ketebalan kira kira dua mili meter bentuk tempe yang digunakan bisa kotak atau bulat tergantung selera, kelebihan dari bentuk tempe bulat adalah tidak mudah patah daripada bentuk yang kotak. Resep cara membuat keripik tempe.

Campur bumbu halus diatas dengan tepung beras, tepung kanji, santan dan telur, aduk sampai rata benar. Campuran bumbu ini yang digunakan untuk mencelupkan tempe irisan yang akan digoreng. Resep cara membuat keripik tempe.

Siapkan dua penggorengan dengan suhu yang berbeda, satu dengan panas sedang dan satunya lagi dengan panas tinggi. Panaskan minyak goreng, celupkan tempe irisan tipis tersebut kedalam adonan tepung lalu masukkan kedalam penggorengan api sedang, bolak balik keripik tempe selama beberapa menit saja sampai setengah matang kemudian angkat dan pindahkan kedalam penggorengan yang panas hingga warna matangnya kelihatan, usahakan keripik tempe jangan sampai terlalu gosong karena hasilnya akan terasa pahit. Setelah matang angkat ,tiriskan, dan tunggu sampai dingin. Resep cara membuat keripik tempe.

Keripik tempe siap untuk dihidangkan, selamat mencoba resep cara membuat keripik tempe yang renyah ini.